Sejarah Portugis dan Spanyol di Indonesia

Dari kedudukannya yang pertama di Kalikut, bangsa Portugis dapat merebut Goa yang letaknya strategis di tengah-tengah pantai barat India dan terlindung oleh sebuah pulau (1510). Kedudukan di Goa dapat dipertahankan sampai tahun 1962, jadi 4,5 abad lamanya. Portugis ingin mendirikan kerajaan laut Portugis di Asia, untuk itu diangkat seorang raja Muda. Raja Muda pertama adalah Francisco d’ Almeida. Ekspansi dijalankan kea rah barat dan timur. Kea rah barat dikuasainya Laut Arab yang sebelumnya dikuasai Arab. Pusat – pusat perdagangan yang penting di rebutnya, seperti Daman dan Diu di Teluk Cambayat (India), Ormuz di depan Teluk Persia. Bangsa Portugis juga berusaha menguasai Aden yang merupakan pintu ke Laut Tenga, tetapi tidak berhasil karena kuatnya pertahanan bangsa Arab di tempat yang penting itu. Andaikata usaha itu dapat berhasil, bangsa Portugis akan dapat menerobos ke Mesir, sehingga hubungan dagang Asia-Eropa di tangannya. Karena gagal, maka bangsa Portugis terpaksa mempergunakan jalan di sebelah selatan Afrika yang jauh dan penuh bahaya.


Ekspansi ke timur di arahkan ke Malaka. Pada tahun 1590 datanglah suatu rombongan Portugis di Malaka, tetapi sebagian dari mereka ditawan oleh Malaka dan sebagian terbunuh akibat pertikaian yang timbul. Peristiwa tersebut dijadikan alasan untuk merebut malaka. Dengan mengerahkan 19 kapal yang berkekuatan 800 orang prajurit di bawah Alfonzo d’ Albuquerque, malaka diserang portugis. Mereka bermaksud menyerang jembatan yang menghubungkan du bagian kota, tetapi memperoleh perlawanan sengit. Sultan sendiri memimpin pertahanan dengan memberikan perintah-perintah di atas gajah kendaraannya, banyak prajurit Portugis yang menemui ajalnya karena panah beracun dari Prajurit Malaka. Setelah sepanjang malam bertempur, akhirnya Malaka dapat direbut oleh Portugis (1511). Di atas bukit Malaka dibangun benteng A-Famosa yang kuat dan mampu menahan serangan Aceh tahun 1692. Akhirnya Portugis bertahan sampai 130 tahun di tempat yang strategis itu. Pada tahun 1641 Belanda berhasil ganti merebutnya.

Karena menyadari bahwa malaka bukan sumber rempah-rempah, maka pada tahun 1512 dikirimkan rombongan ke Maluku yang diterima oleh Ternate dengan baik, karena Negara itu tengah bersaing dengan Tidore. Untuk memperoleh barang dagangan serta beras yang sangat diperlukan Malaka dan untuk menggalang pertahanan bersama terhadap islam, maka bangsa Portugis mengadakan hubungan dengan raja-raja Hindu di Jawa seperti Pakuan, Majapahit, Blambangan. Pernah pula bangsa Portugis menduduki Samudra Pasai tahun 1521, tetapi terpaksa ditinggalkan karena mendapat perlawanan. Pada tahun itu juga dengan tipu muslihat mereka dapat merebut Macao di depan daratan Cina yang hingga sekarang masih ditangannya.






Imprealisme Portugis adalah Imprealis Kuno (ancient imperialism) dengan semboyan : Gold, Gospel, Glory. Berarti bahwa mereka sekaligus melaksanakan penjajahan dalam ekonomi, agama dan politik. Karena man powernya terbatas, maka mereka hanya menduduki tempat-tempat yang stategis saja untuk perdagangan. Mereka tidak mampu menguasai daerah pedalaman. Banyak perlawanan yang harus dihadapi karena beberapa sebab di antaranya adalah :

a. Dalam bidang ekonomi bangsa Portugis menjalankan system monopoli yang sebelumnya tidak dilakukan di Asia. Dengan system tersebut bangsa Asia dipaksa menjual hasil perkebunannya hanya kepada Portugis dan harga ditetapkan menurut kehendaknya. Hasil-hasil itu diangkat sendiri langsung dari Maluku melalui Malaka, Goa, Tanjung Harapan ke Lissabon. Hal demikian berarti mematikan perdagangan dan pelayaran yang sifatnya bebas dan telah lama berlangsung.
b. Bangsa Portugis menyebarkan agama Katolik sebagai salah satu tugasnya. Tugas demikian mendapat banyak tangtangan dari golongan Islam. Di Ternate sendiri sempat Raja Tabariji dan ibunya masuk katolik, demikian juga raja Bacan. Sebanyak 30 tempat di Maluku yang menganut agama Katolik dengan jumlah penduduk 25.000 orang. Usaha yang berhasil diteruskan oleh Alfonso de Castro yang gugur dalam menyiarkan agama. Tetapi bangsa portugis akhirnya diusir dari Ternate oleh Sultan Babullah (1575).
c. Sikapnya yang sombong dan tindakan yang malampaui batas seperti ikut campur tangan urusan dalam negeri dalam soal tahta, berani membunuh Sultan Khairul menyebabkan mereka dimusuhi.
d. Penjabat-penjabat Portugis banyak yang korup karena gajinya terlalu rendah dan mereka mempergunakan kesempatan selama menjabat di wilayah Asia. Sebab setelah mereka habis masa jabatannya akan ditarik kembali ke negrinya. Tindakan korup itulah antara lain yang dikeluhkan oleh Franciscus Xaverius yang dianggapnya sebagai perbuatan yang bertentangan dengan tugas sucinya.
e. Saingan dari bangsa barat sendiri. Pada tahun 1521 bangsa Spanyol dari rombongan Magelhaens singgah di Tidore dalam perjalanannya kembali ke negrinya. Kedatangan bangsa Spanyol danggap oleh Portugis sebagai pelanggaran Perjanjian Tordesillas, tetapi Spanyol beranggapan bahwa mereka tidak melanggar karena pelayarannya selalu kearah barat. Terbuktilah dengan pelayaran Magelhaens itu, bahwa bumi bulat dan batas Timur dalam Perjanjian Tordesillas memang tidak jelas. Sehingga kedua bangsa itu memperbaruinya dengan mengadakan Perjanjian di Saragosa (1526) yang menetapkan secara tegas batas di sebelah timur di meridian sebelah timur Irian. Saingan yang lebih berat adalah dari Belanda yang dari Eropa memang merupakan lawannya. Pada tahun 1605 benteng Portugis di Ambon yang merupakan gantinya di Ternate dapat direbut oleh Belabda. Bangsa Portugis mundur ke selatan lagi dengan menduduki pulau Timor (Timur) sampai tahun 1976. Daerah ini melepaskan diri dari Portugis setelah dijajah selama hamper 40 tahun dan menggabungkan dengan Republik Indonesia sebagai Propinsi ke 27.


Bangsa Spanyol berkedudukan di Pilipina, nama itu diberikan berdasr nama Raja Philip II. Pada waktu bangsa Portugis terdesak di Tidore, mereka meminta bantuan dari Spanyol di Pilipina, tetapi terlambat. Sampai abad 18 bangsa Spanyol masih menduduki beberapa pulau di Maluku Utara yang dianggap merupakan bagian dari Pilipina. Akhirnya mereka pun didesak oleh Belanda yang menginginkan menjadi penguasa tunggal di Maluku.

0

Posting Komentar

Site Info

Free PageRank Checker